Jumat, 06 April 2012

Laporan Difraksi Celah Tunggal dan Kisi (ga lengkap)

MODUL IV
Difraksi Celah Tunggal Dan Kisi
Nama   : Nisa Uswatun Hasanah (1210703021)
Asisten : Siti Murtopingah

I . KONDISI LAB
KONDISI/WAKTU
AWAL
AKHIR
Temperatur
(25 .9± 0.5)°C
(26.0 ± 0.5)°C
Kelembapan
(77 ± 0.5)%
(80± 0.5)%
Tekanan
(695.45 ± 0.025 )mmHg
(695.15 ± 0.025 )mmHg

II . TUJUAN
·         Memahami tentang difraksi cahaya
·         Menentukan panjang gelombang cahaya dengan difraksi celah tunggal
·         Menentukan ketebalan rambut dengan difraksi prinsip babinet


III . ALAT DAN BAHAN
·         Sumber cahaya (Laser)
·         Celah tunggal dengan skala micrometer
·         Sehelai rambut (kisi)
·         Meteran
·         Layar
·         Millimeter skrup


IV . TEORI SINGKAT
Difraksi dan interferensi  merupakan fenomena penting yang dapat membedakan gelombang dari partikel. Interferensi merupakan penggabungan secara superposisi dua gelombang atau lebih di suatu titik. Difraksi merupakan pembelokan gelombang disekitar sudut yang terjadi apabila sebagian muka gelombang dipotong oleh halangan atau rintangan. Semakin kecil halangan, maka penyebaran gelombang semakin besar. Hal ini dapat diperoleh apabila cahya dilewatkan pada suatu celah tunggal dengan lebar d, sehingga berkas-berkas cahaya tersebut dibelokkan, kemudian berinterferensi disuatu titik. Pola difraksinya seperti gambar disamping.

Fresnel mendefinisika difraksi sebagai interferensi gelombang dengan persamaan berikut:
nλ=d sin⁡Ɵ
Dengan n yaitu orde, d yaitu kisi, dan lamda yaitu panjang gelombang, Ɵ yaitu sudut yang dibentuk antara sumbu ke-n dan sumbu normal (n terang pusat). 
Dimana sin⁡〖Ɵ=〗  y/√(L^2+y^2 )
Dengan L yaitu jarak dari kisi ke laya, dan y merupakan jarak antar orde.
Prinsip babinet mengungkapkan bahwa pola difraksi yang sama dapat terjadi jika satu atau sekelompok celah diganti dengan komplemennya. Pola difraksi oleh sebuah rambut yang memiliki ketebalan d akan sama dengan pola difraksi oleh suatu celah yang memiliki lebar d. sehingga denga menggunakan prinsip babinet kita dapat menentukan ketebalan rambut dengan mengamati pola difraksinya.
Persamaannya sedit berbeda dengan difraksi celah tunggal:
d=Lλ/n


V . DATA DAN PENGOLAHAN
Data yang kami dapatkan dari percobaan difraksi dengan prinsip babinet:
λ laser: 633 nm
L (m)
n (m)
d manual (m)
d grafik (m)
1
0.014
0.0000452

2
0.019
0.00006663
0.00018
3
0.02
0.00009495


Data yang kami dapatkan berdasarkan percobaan difraksi celah tunggal:
d = 0.55 mm
L (m)
n (m)
r
λ manual (m)
λ grafik (m)
1
0.002
1.000002
0.00055

2
0.006
2.000009
0.000275
0.0000011
3
0.007
3.0000082
0.000183


d = 0.6 mm
L (m)
n
r
λ manual (m)
λ grafik (m)
1
0.004
1.000008
0.0006

2
0.009
2.0000202
0.0003
0.0000018
3
0.01
3.0000167
0.0002


d = 0.65 mm
L (m)
n (m)
r
λ manual (m)
λ grafik (m)
1
0.003
1.0000045
0.00065

2
0.007
2.0000122
0.000325
0.00000195
3
0.009
3.0000135
0.000217


Grafik percobaan difraksi celah tunggal :
VI . ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil yang kami dapatkan, terlihat bahwa hasilnya sangat jauh dari literature. hal ini dapat terjadi karena beberapa factor kesalahan yang dimana  hal ini dapat terjadi ketika ketika melakukan praktikum. Pola difraksi yang terlihat pada layar tidak terlalu terlihat jelas, karena sinar laser mudah sekali terganggu. Menyebabkan pola gelap terang kadang tampak dan terkadang tidak terjadi pola interferensi pada layar. Selain itu, factor yang mempengaruhi yaitu pada penggambaran kembali pola difraksi pada layar ditebalan dengan menggunakan pulpen, dan pada saat yang bersamaan ketika menebalkan pola difraksi, layar menjadi tidak stabil karena ada tekanan saat menebalkannya dengan pulpen, sehingga penggambaran kembali pola difraksi menjadi sulit dan kurang tepat.

VII . SIMPULAN
Berdasarkan pembahasan diatas dapat kami simpulkan bahwa Difraksi terjadi ketika ada seberkas cahaya yang dihalangi oleh suatu halangan. Dengan difraksi celah tunggal kita dapat menentukan panjang gelombang sumber cahaya yang melewati celah tersebut. prinsip babinet tidak jauh berbeda dengan difraksi celah tunggal, dengan mengetahui pajang gelombang sumber cahayanya, kemudian mengetahui pola difraksinya, maka kami dapat menentukan ketebalan rambut.

DAFTAR PUSTAKA
  1.     http://phys.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/03/BAB5-DIFRAKSI.pdf
  2.     http://nada-f-h-fst08.web.unair.ac.id/artikel_detail-35973.html
  3.   http://www.scribd.com/doc/38568741/Modul-1-Interferometer-Dan-Prinsip-Babinet

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar